Beranda > Dunia, Nasional > Kalangan Seniman Ingin Pusat-pusat Budaya RI di Australia

Kalangan Seniman Ingin Pusat-pusat Budaya RI di Australia

Anak-anak sekolah di Australia rata-rata antusias belajar tari-tarian

Anak-anak sekolah di Australia belajar tarian tradisional Indonesia

Kalangan praktisi seni di Australia berharap adanya pusat-pusat kebudayaan Indonesia di beberapa kota. Harapan ini sejalan dengan strategi jangka panjang hubungan luar negeri Australia, yang kini ingin lebih mendekatkan diri dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

“Melalui Buku Putih The Asian Century, Australia kini ingin mengirim lebih banyak mahasiswa Australia ke Indonesia untuk belajar. Itu kebijakan yang sangat bagus, tapi dukung juga program-program budaya Indonesia di Australia,” kata Murtala, penari dan instruktur tari tradisional asal Aceh yang sudah tinggal di lima tahun di Negeri Kanguru.

Dalam bincang-bincang dengan VIVAnews di Marrickville, pinggir Kota Sydney, Murtala menilai bahwa budaya menjadi modal yang sangat efektif untuk merekatkan hubungan kedua bangsa. Itulah sebabnya Murtalla bersama penari Australia, Alfira O’Sullivan, mencurahkan waktu mereka untuk memperkenalkan sejumlah tari-tarian tradisional Indonesia kepada masyarakat lokal Australia, terutama kepada anak-anak.

Mereka beberapa kali memenuhi undang untuk pentas atau menjadi pengajar tari di sekolah-sekolah. Alfira, perempuan Australia keturunan Aceh, juga mengasuh kelompok tari Suara Indonesia.

“Selama ini kita sudah sering mendengar upaya-upaya mendekatkan hubungan kedua negara. Tapi masih belum banyak yang memanfaatkan pendekatan budaya Indonesia di Australia. Padahal dengan mengajarkan seni dan tari Indonesia kepada anak-anak sekolah di Australia, sudah tertanam di benak mereka bahwa Indonesia itu kaya dengan beragam budaya dan sudah tidak merasa asing lagi dengan Indonesia,” kata Alfira, yang bisa mengajarkan tari asal Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Betawi, dan Sunda.

Alfira dan Murtala rutin berkeliling Australia, lebih sering secara swadaya, untuk memperkenalkan dan mengajarkan tari-tari tradisional Indonesia ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas lokal. “Sambutan warga setempat luar biasa. Anak-anak mereka pun merasa berlatih tari-tarian Indonesia itu kegiatan yang menyenangkan dan banyak gerak,” kata Alfira, yang bersama Murtala tengah sibuk mempersiapkan pameran seni dan budaya Indonesia bertajuk “Asyik” di Marrickville Juni mendatang.

Namun, mereka menyayangkan bahwa kegiatan-kegiatan seni seperti ini masih sangat jarang berlangsung di Australia. Kalaupun rutin terselenggara, rentang waktunya sangat panjang dalam menunggu kegiatan berikut.

Maka, mereka mengusulkan adanya pusat-pusat kebudayaan Indonesia di beberapa kota Australia, agar kegiatan pertunjukan dan latihan seni bisa berjalan rutin dan berkelanjutan. “Tidak perlu harus punya gedung baru, karena pasti butuh biaya besar. Namun bisa sewa tempat agar kegiatan bisa berlangsung rutin dan merekrut instruktur untuk melatih anak-anak sekolah dan warga setempat,” kata Murtala.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: