Beranda > Nasional, Sport > “Dengar Lagu ‘Indonesia Raya’ Rasanya Cetar Membahana”

“Dengar Lagu ‘Indonesia Raya’ Rasanya Cetar Membahana”

Sharon Limansantoso

PEMBAWAANNYA serius, tatapannya tajam saat di arena bak pemburu yang tengah mengincar mangsa buruan. Lantas ketika 10 pin berformasi segitiga luluh bertumbangan di ujung lintasan arena isyarat STRIKE! sudah terlaksana, rona wajahnya berubah ceria dengan selebrasi kecil-kecilan.

Setidaknya itu yang terlihat pada sosok Sharon Limansantoso – salah satu peboling terbaik Indonesia. Sesekali, Thomas Tan – sang pelatih, sedikit memberi arahan dan didengarkan dengan baik oleh dara kelahiran Jakarta, 30 Oktober 1984 itu. Baik saat segenap pin berjatuhan atau kala masih ada yang tersisa satu-dua di ujung lintasan boling.

Seketika bola berada di tangannya lagi, fokusnya sama sekali masih lestarigame per game, lantaran tak ingin kalah dari rekannya, Putty Armein, yang juga tak jarang mendulang STRIKE!. Tapi alangkah berbeda pribadinya yang murah senyum tatkala Okezone berkesempatan ngobrol santai dengan lajang blasteran Filipina dari darah Ibunya ini. Berikut petikan wawancara singkat menyoroti sosok yang satu ini, termasuk momen terbaiknya hingga keinginannya menjadi guru kelak, pada suatu sore di Utara Jakarta:

Dari mana Anda mengenal boling dan mulai kapan menekuninya?
Dari orang tua. Mereka memang hobi main boling dan saya juga ikut-ikutanjadinya. Mulai main, umur sembilan (tahun) dan sejak kelas dua SMP sudah mulai ikut klub. Setelah itu makin serius dan bisa masuk tim Indonesia. Tetapi saya sempat vakum empat tahun untuk kuliah, itu tahun 2002 sampai 2006 akhir.

Apa momen terbaik dan terburuk selama menjadi atlet boling?
Yang terbaik, kalau bisa mendengar lagu (kebangsaan) “Indonesia Raya” dimainkan ketika juara. Itu rasanya cetar membahana banget deh. Itu pasdapat emas di SEA Games 2007 (Nakhon Ratchasima – Thailand). Momen paling buruk, mungkin waktu ngeliat nama saya ada di paling bawah ketika ada turnamen lokal.

Anda salah satu top-seed Indonesia, bagaimana bisa begitu?
Waktu itu, saya sedang mengembangkan teknik (melempar) baru tapi ternyata enggak berjalan lancar. Faktor fisik dan kejenuhan juga ada. Apalagi kalau ada latihan dan turnamen berturut-turut dan enggak ada berhentinya. Kadang Sabtu-Minggu juga enggak ada jeda, lebih seperti orang kerja aja.

Jika sudah begitu, Anda punya hobi lain untuk mengusir kejenuhan dari boling?
Saya seneng baca, apa saja saya baca seperti komik atau bacaan lain yang enteng-enteng. Hobi lain hanya main game di komputer. Tapi juga harus jaga fisik ketika ada waktu bebas, minimal jogging saat enggak ada latihan atau pertandingan.

Selama ini, bagaimana dukungan dari keluarga, pemerintah dan federasi (PBI-Persatuan Boling Indonesia) terhadap Anda?
Keluarga dari dulu memang mendukung, terutama secara moril. Dari pemerintah (DKI), saya dapat bonus Rp290 juta dengan 1 emas, 3 perak dan 1 perunggu di PON (Riau 2012). Dari PBI, mereka selalu jadi sponsor untuk segala macam akomodasi dan peralatan di setiap turnamen.

Bagaimana dengan pendidikan Anda dan sampai kapan akan menggeluti boling sebagai atlet?
Selama saya vakum 2002-2006 lalu, saya fokus kuliah di Filipina – De La Salle University, jurusan Computer Application. Saya kuliah di sana karena program beasiswa. Kalau bicara sampai kapan main boling, saya akan pensiun sampai (timnas) enggak membutuhkan dan memanggil lagi.

Setelah itu, apa rencana Anda kedepannya? Punya niat menjadi pelatih boling?
Enggak kepingin jadi pelatih, tapi saya hanya ingin jadi pengajar (guru). Saya memang sudah lama senang mengajar. Beberapa waktu lalu, sempat jadi guru Bahasa Inggris di SMA Notre Dame (Jakarta Barat). Setelah pensiun, saya ingin mengajar lagi.

Punya ketertarikan terhadap olahraga lain, sepakbola misalnya?
Enggak terlalu suka, tapi saya suka baju-baju (kostum) bolanya kaya’ Juventus tuh, lucu bajunya (kostum away) warnanya pink. Kalau pemain, saya senang sama Park (Ji-Sung), abis dia keren, jarang-jarang orang Asia bisa begitu (bermain di Manchester United dan jadi pemain Asia pertama peraih trofi Champions League). Paling sering nonton bola pas World Cup dan Prancis, selalu jadi jagoan saya.

Bagaimana dengan sepakbola nasional? Apa saja yang Anda ketahui tentang kondisi persepakbolaan Indonesia dewasa ini?
Paling saya taunya berita Diego Michels (bek timnas) ketangkep (Polisi). Soal konflik sepakbola nasional, ya mudah-mudahan Pak Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) kita yang baru itu (Roy Suryo), bisa menyelesaikan dengan cara yang terbaik.

Terakhir, atlet wanita selalu disoroti lebih pada sex appeal-nya. Komentar Anda?
Mungkin, orang-orang terutama laki-laki ngeliatnya, olahraga itu didominasi lak-laki – bahwa wanita itu makhluk lemah dan sebagainya. Tapi ketika tiba-tiba melihat wanita bisa ada di atas (berprestasi), imageitu berubah. Image itu yang bikin dipandang seksi. Tetap feminin tapi punya prestasi bagus.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: