Beranda > Sport > Liga Italia: Inter 1-2 Juventus

Liga Italia: Inter 1-2 Juventus

Kekompakan Trio Tengah-Belakang Juve dan Faktor Quagliarella

thumbnail

Juventus berhasil membalaskan kekalahan pada pertemuan Derby d’Italia pertama. Melalui dua gol yang dicetak Fabio Quagliarella dan Alessandro Matri, mereka menundukkan Inter Milan di kandangnya sendiri.

Dengan kemenangan ini Juventus mempertahankan jarak 9 poin atas peringkat kedua, Napoli, yang juga berhasil memetik kemenangan usai menekuk Torino 5-3. Sementara itu Inter harus puas tertahan di posisi ke-7 dengan raihan poin 47. Inter beruntung karena dua pesaingnya dalam memperebutkan tiket ke Eropa juga mengalami kekalahan: Roma ditundukkan Palermo, Fiorentina kalah dari Cagliari.

Pada pertandingan yang berlangsung di Giuseppe Meazza ini kedua tim bermain imbang dengan sama-sama memiliki 50% penguasaaan bola. Demikian pula dengan percobaan ke arah gawang yang hampir sama, dengan Inter melakukan 12 attempts (6 on target) dan Juventus 10 attempts (5 on target). Inter lebih banyak menginisiasi serangan terutama di babak kedua, sementara Juventus menguasai permainan dengan kemampuan bertahannya yang mumpuni, sambil sesekali melakukan serangan balik.

Dilihat dari area serangan, Inter lebih banyak mencoba menembus pertahanan Juventus dari sisi kiri yang dijaga oleh Simone Padoin dan Andrea Barzagli melalui Pereira dan Kovacic. Namun dengan Vidal yang melapis Padoin, dan Barzagli yang tampil baik, Inter kesulitan untuk menembus dari sisi tersebut.

Ketidakmampuan Inter untuk membongkar pertahanan Juventus inilah yang menyebabkan pemain Inter frustasi. Esteban Cambiasso pun kemudian diusir wasit di menit-menit akhir pertandingan karena tekel kerasnya pada Sebastian Giovinco.

3-5-2 versus 3-4-1-2

Conte memainkan formasi yang telah memberikannya gelar juara di musim lalu, 3-5-2, dengan trio Barzagli-Bonucci-Chiellini yang menjaga lini pertahanan dan trio Vidal-Pirlo-Marchisio sebagai motor di lini tengah. Kombinasi tro lini tengah-lini belakang inilah yang menjadi tulang punggung sekaligus inti dari kekuatan Juventus, sehingga Conte tinggal mengutak-atik pemain yang bermain di sisi sayap dan penyerang.

Di lini depan, Conte mempercayakan tumpuan serangan pada Alessandro Matri sementara Quagliarella dipercayakan sebagai second striker yang memililiki daya jelajah lebih luas. Walau berhasil memberikan assist, tugas Quagliarella sebenarnya bukan untuk menyuplai Matri. Ia bermain lebih melebar agar terbuka ruang antarlini belakang Inter Milan sehingga baik Pirlo, Vidal, atau Marchisio bisa mengirimkan umpan terobosan pada Matri.

Hal inilah yang terjadi dalam gol kedua Juventus. Quagliarella yang melebar untuk menerima umpan Vidal menarik Chivu keluar sehingga Matri bisa melakukan lari dari dalam untuk mencetak gol.

Sementara itu, Stramaccioni mengulangi formasi tiga bek yang ia gunakan saat mengalahkan Juventus di kota Turin. Namun, ketiadaan Diego Milito membuat Palacio diplot jadi striker utama yang ditopang oleh Cassano. Ricky Alvarez kemudian dipasang dibelakang kedua penyerang ini dengan tugas untuk menjaga Pirlo.

Jika biasanya Strama menduetkan Gargano dan Cambiasso di jantung lini tengah, kali ini ia memilih untuk menggunakan Mateo Kovacic untuk mengalirkan bola. Dengan Alvarez yang bertugas untuk bertahan, jika memasangkan Cambiasso dengan Gargano, maka Inter hanya akan memiliki Pereira untuk mendistribusi bola ke depan. Karena itu Kovacic-lah yang kemudian dipasangkan dengan Gargano, demi menyeimbangkan penyerangan dan pertahanan.

Tiga Bek Juventus Fasih Mengalirkan Bola

Salah satu kunci dari pola 3-5-2 Juventus adalah kemampuan ketiga bek dalam mengalirkan bola, terutama dengan menggunakan long ball, walau berada di bawah tekanan lawan. Hal ini membuat pemain tengah leluasa bergerak ke arah gawang lawan karena mereka tahu bola akan dialirkan ke area tengah atau pinggir lapangan.

Hal ini berbeda dengan trio lini belakang Inter yang kesulitan membawa bola. Akibatnya, baik Kovacic, Gargano, Zanetti, atau Pereira harus melakukan dribbling terlebih dahulu untuk melewati lini tengah Juventus. Apalagi Cassano dan Palacio juga lebih sering berada di area pertahanan Juventus, sehingga ada gap yang besar antara lini tengah dan depan Inter.

Karena terpaksa mengalirkan bola melalui dribbling inilah serangan-serangan Inter, terutama di babak pertama sangat mudah diantisipasi oleh Juventus. Total 39 kali take-ons (sukses 11) yang harus dilakukan Inter dalam pertandingan ini, menandakan sering kalinya mereka harus berhadapan langsung dengan pemain Juventus saat membawa bola. Bandingkan dengan Juventus yang hanya 26 kali melakukan take-ons, karena lebih fasih dalam mengalirkan bola melalui umpan panjang.

Kegagalan Ricky Alvarez

Di pertemuan sebelumnya, alih-alih menugaskan satu orang khusus, Strama menugaskan Milito dan Palacio untuk bergantian menjaga Pirlo. Namun, hal ini akan sulit dilakukan tanpa Milito, karena jika Palacio turun dan melakukan defensive action, maka Inter akan kehilangan titik tumpu serangan. Apalagi Cassano lebih sering bergerak melebar baik ke sisi kiri dan kanan Juventus. Karena itu, Alvarez-lah yang ditugaskan untuk menjaga Pirlo.

Akan tetapi, Alvarez tidak mampu melakukan man-marking terhadap Pirlo dengan baik sehingga acap kali Pirlo mampu lepas dari penjagaan. Dalam 45 menit, Alvarez hanya bisa melancarkan tekel 2 kali, dan 3 kali melakukan pelanggaran. Akibatnya, Pirlo pun di babak pertama sering mendapatkan ruang dan waktu untuk mengirimkan umpan.

Contohnya saja di menit 6. Pirlo yang lepas dari kawalan Alvarez (di sisi kiri lapangan), mampu mengirimkan umpan diagonal ke arah Vidal yang berlari di sisi kanan lapangan dan mengubah arah permainan. Vidal kemudian mengirimkan umpan silang yang berhasil mengenai Leonardo Bonucci. Beruntung sundulan bek Juventus ini melambung di atas mistar gawang.

Kegagalan Alvarez ini membuat lini tengah Juventus di babak pertama mendominasi sehingga Gargano dan Kovacic tak mampu mengalirkan bola (2 pemain inter versus 3 pemain Juventus).

Stramaccioni memperbaiki hal ini dengan memasukkan Freddy Guarin yang memang memiliki kecepatan dan kemampuan fisikal yang lebih baik dari Alvarez. Sembilan menit setelah memasukkan Guarin, Inter pun mampu menyamakan kedudukan dengan memanfaatkan kesalahan dari Pirlo.

Defensive Action Juventus Superior

Bisa dikatakan Juventus adalah tim yang paling baik bertahan secara unit di Italia. Hal inilah yang membuat Juventus, walau tidak bermain cantik, sangat sulit dikalahkan oleh lawan-lawannya. Kuncinya terletak kemampuan pressing, tekel, dan kemampuan membaca pergerakan (baik kawan maupun lawan) yang mampu dilakukan baik pemain tengah maupun belakang.

Hal ini terutama terlihat di babak kedua. Setelah Guarin masuk, permainan lini tengah menjadi seimbang dan Inter lebih banyak melakukan inisiatif serangan. Namun di dalam diri Marchisio dan Vidal, Juventus memiliki dua pemain tengah yang kemampuan bertahan dan menyerang sama bagusnya, sehingga serangan Inter dapat diredam di lini tengah.

Pada pertandingan ini Marchisio melakukan 6 kali tekel, 2 intersepsi dan 2 clearance, sementara Vidal 4 kali tekel, 2 intersepsi, dan 1 kali clearance.

Kinerja bertahan yang dilakukan oleh lini tengah ini membuat lini bertahan tinggal melakukan clearance untuk menghalau serangan lawan. Bahkan trio Barzagli-Chiellini-Bonucci jadi pemain dengan jumlah clearance tertinggi untuk Juventus (masing-masing 6, 3, dan 3 clearance). Dengan pola lini tengah melakukan pressing-lini belakang clearance ini Juventus mampu meredam serangan-serangan Inter.

Key Player: Fabio Quagliarella

Dalam pertandingan ini Fabio Quagliarella seolah menujukkan kebenaran isitlah “the right man at the right place”. Selama 82 menit, Quagliarella hanya melakukan 18 kali passing (dengan persentase sukses 61%), 3 crossing, 1 tekel, 1 intersepsi, dan 3 clearance.

Namun, dua kali Quagliarella melakukan keputusan tepat yang berujung pada kemenangan Juventus. Pertama adalah saat ia meluncurkan tendangan jarak jauh berujung gol di menit ketiga. Saat itu ia memanfaatkan tekel gagal Walter Samuel dan Ranocchia yang hanya terdiam memberikan ruang.

Kedua adalah saat Quagliarella berhasil menjaga bola agar tidak keluar lapangan dan mengirimkan crossing untuk gol Alessandro Matri. Pemain Inter seolah tidak menduga kedua aksi Quagliarella ini sehingga terlambat untuk melakukan antisipasi.

Kesimpulan

Berbeda dengan Juventus yang telah memainkan 3-5-2 selama satu tahun, pola formasi tiga bek yang dipilih oleh Stramaccioni justru menjadikan Inter tidak bisa bermain lepas. Dua kali Ranocchia salah melakukan antisipasi bola, karena tidak fasih memainkan pola tiga bek, dan berujung pada dua gol Juventus. Sementara lini tengah Inter pun tidak mampu untuk mengonversi penguasaan bola di area tengah untuk dijadikan peluang. Hanya duet Palacio-Cassano saja yang terlihat tajam dan jadi tumpuan Inter untuk mencetak gol.

Sementara untuk Juventus, kemenangan ini, seperti yang dikatakan Conte seusai pertandingan, jadi tambahan semangat untuk menghadapi Bayern Munich pertengahan minggu depan. Kekompakan trio lini tengah dan trio lini belakang telah mampu melewati ujian dari Inter dan siap untuk melawan raksasa Jerman tersebut.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: