Beranda > Nasional, Sport > Sepak Bola Indonesia Kurang Sabar

Sepak Bola Indonesia Kurang Sabar

“Kami kalah berkali-kali sebelum akhirnya tidak terkalahkan selama empat tahun dan menjadi juara ASEAN. Perlu kesabaran. Apakah kalian punya kesabaran itu?” papar Noh Alam Shah, striker tim nasional Singapura, kepada saya di sela-sela pertandingan PSS Sleman melawan Persiba Bantul belum lama ini.

Sepanjang babak kedua, sembari tetap mengerjakan statistik pertandingan, saya berbincang dengan pemain yang akrab disapa Along itu mengenai kondisi sepak bola Indonesia. Kami sepakat, Indonesia punya potensi untuk jadi kekuatan sepak bola Asia bahkan dunia, tetapi pengelolaannya belum benar.

Salah satu hal mendasar yang kita tidak punya adalah kesabaran. Kita tidak sabar membina pemain muda, tidak sabar menjalankan berbagai program yang tersistem rapi, dan lain sebagainya.

Kita sudah lebih dari dua dekade tidak meraih apa pun (Piala Kemerdekaan di pertengahan dekade 2000 dan Sultan Hassanal Bolkiah Trophy 2001 tidak masuk hitungan saya). Sederhananya, timnas sepak bola Indonesia tidak meraih gelar besar yang bergengsi di Asia Tenggara, seperti Piala AFF atau medali emas SEA Games. Kita hanyalah spesialis juara dua di kedua ajang yang paling mungkin kita menangkan itu.

Kita memang sudah sedemikian sabar menanti-nanti gelar. Tetapi sebenarnya kita tidak bersabar dengan benar. Sudah berapa belas pelatih yang kita ganti lantaran gagal dalam satu kejuaraan? Hasilnya nihil.

Sudah begitu, ketika ada kemajuan bagus, pelatih tidak dipertahankan dan dipecat begitu saja dengan alasan gagal mengangkat prestasi timnas. Kita terlalu mudah mengganti pelatih dan program pembinaan, termasuk sistem liga. Padahal proses itulah yang penting untuk membangun sepak bola yang baik.

Di bulan Maret ini saja, Indonesia sudah punya tiga pelatih. Pertama, Nil Maizar. Kedua, Luiz Manuel Blanco asal Argentina (yang belum sempat melatih sudah keburu dicopot). Ketiga, duet Rahmad Darmawan dan Jacksen F. Tiago saat menghadapi Arab Saudi lalu. Setelah pertandingan itu, pelatih RD dan Jacksen kembali ke klub masing-masing dan posisi pelatih tim nasional pun kembali lowong.

Pemecatan Nil Maizar sesungguhnya menunjukkan dengan gamblang ketidakjelasan program pembinaan PSSI. Berdasarkan statistik, Nil sudah memandu 20 pertandingan dengan lima kali menang, tujuh imbang, dan delapan kali kalah. Itu berarti persentase kemenangan Nil hanya 25 persen. Meski dianggap buruk, sebenarnya Nil sudah melatih dengan sangat baik.

Apalagi Nil tetap tenang melatih tim nasional di tengah konflik PSSI — yang berakibat kesulitan memilih pemain. Untuk sebuah tim dengan komposisi “seadanya”, penampilan tim nasional asuhan Nil tidak terlalu mengecewakan.

Pertandingan melawan Irak (kita kalah 0-1) pun menunjukkan ada peningkatan. Sudah lama kita tidak melihat pemain Indonesia bisa bermain disiplin sepanjang 90 menit. Dan satu lagi keunggulan Nil: dia pandai menyusun formasi sesuai kebutuhan, tidak hanya terpaku pada satu pola dasar.

Apakah fenomena kurang sabar ini hanya terjadi di level tim nasional? Tidak.

Di Liga Super Indonesia, setidaknya sudah empat pelatih diberhentikan meski belum genap satu putaran. Suharno pelatih Persegres Gresik jadi pionir. Kemudian secara berturut-turut adalah Gomez de Oliviera yang dipecat Persela Lamongan, Simon McMenemy Pelita Bandung Raya, serta Iwan Setiawan yang diberhentikan oleh Persija Jakarta.

Ini kita baru berbicara pada tataran atas, pelatih kepala sebuah klub atau tim nasional. Jika kita berbicara lebih menyeluruh mengenai pembinaan pemain muda, kesabaran jadi hal yang teramat mahal. Tentu semua sudah tahu kalau PSSI enggan melakukan pembinaan usia muda dengan baik dan lebih suka langkah-langkah instan, seperti mengirim satu tim ke luar negeri, melakukan naturalisasi, dsb.

Ketika pembicaraan saya dengan Along mendekati ujung, saya teringat satu kesabaran yang mungkin jadi yang terakhir di sepak bola kita. Yakni, pada tahun 1991. Tim asuhan Anatoly Polosin waktu itu melakoni serangkaian pertandingan persahabatan menjelang SEA Games Manila 1991. Mereka menghadapi Korea Selatan, Malta, Mesir, U-23 Cina dan klub Austria. Hasilnya? Selalu kalah dengan kebobolan 17 gol dan hanya mencetak satu gol.

Namun, pengurus PSSI saat itu tidak buru-buru memecat Polosin. Dan ujungnya manis. Saat SEA Games berlangsung, Malaysia, Vietnam, Filipina, Singapura, dan Thailand bisa kita kalahkan. Medali emas pun dikalungkan ke pemain Indonesia. Sayang itu jadi gelar terakhir yang pernah kita raih.

Intinya, bila sepak bola kita masih kurang sabar seperti sekarang, jangan heran bila kita harus menunggu lebih lama lagi meraih gelar juara.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: